Buku ini mengkaji komunikasi bencana dalam konteks era informasi, ketika peningkatan risiko bencana semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim dan kerentanan sosial yang kompleks. Bencana dipahami bukan sekadar peristiwa alam, melainkan hasil dari interaksi dinamis antara bahaya (hazard), tingkat paparan (exposure), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas masyarakat (capacity). Kerangka ini menempatkan komunikasi sebagai elemen penting dalam upaya pengurangan risiko bencana yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan jangka panjang, sejalan dengan Hyogo Framework for Action 2005-2015 dan terutama Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030 untuk Pengurangan Risiko Bencana.
Buku ini menegaskan bahwa komunikasi harus bekerja secara berkelanjutan di seluruh siklus bencana: prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Dalam konteks digital, buku ini membahas peran sentral media massa dan sosial, namun menyoroti tantangan misinformasi, disinformasi, dan infodemic. Kesenjangan akses dan literasi digital juga menjadi perhatian. Oleh karena itu, buku ini menekankan strategi multikanal, adaptif, dan peka konteks sosial budaya.
Secara konseptual, komunikasi bencana adalah proses pertukaran informasi dan makna yang melibatkan berbagai aktor, menyoroti keterkaitan antara komunikasi risiko, komunikasi krisis, dan komunikasi kedaruratan sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Penekanan diberikan pada pembangunan kepercayaan publik, transparansi, empati, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan risiko bencana. Pada hakikatnya, komunikasi bencana adalah upaya membangun relasi antara pengetahuan dan tindakan, antara institusi dan warga. Ia harus proaktif, terkoordinasi, dan partisipatif, melampaui logika penyiaran menuju logika perlindungan dan pemberdayaan, berpihak pada keselamatan serta martabat manusia.
Penulis : Ahmad Syarif, S.Sos. M.I.Kom
Editor : Dr. Rudi Hardi, S. Sos., M.Si
Halaman buku: 423
DOWNLOAD
PRE-ORDER | Rp 114.000









