Di tengah arus deras konten digital yang mengancam kedalaman spiritual generasi muda, bagaimana pendidikan agama Islam tetap relevan tanpa kehilangan substansi nilai? Buku ini hadir sebagai jawaban strategis yang tidak sekadar mengadopsi teknologi, tetapi mengislamkannya sebagai wasilah dakwah yang beradab dan transformatif. Ditulis oleh tim akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, buku ini menggabungkan kekuatan pedagogi Islam klasik dengan inovasi digital kontemporer untuk membentuk Generasi Z yang melek teknologi sekaligus berakhlak mulia.
Buku ini dibuka dengan analisis mendalam tentang transformasi pedagogi di era digital yang mengungkap karakter unik Generasi Z—digital native dengan short attention span—dan mengapa pendekatan student-centered learning menjadi kunci membuka hati mereka terhadap ajaran Islam. Bab kedua menegaskan fondasi filosofis melalui konsep tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sebagai landasan tak tergoyahkan dalam menghadapi disrupsi teknologi, dilengkapi prinsip maslahat-mafsadat sebagai filter etis penggunaan platform digital. Tiga bab berikutnya secara khusus mengupas strategi pemanfaatan YouTube sebagai learning hub dengan model flipped classroom dan microlearning, TikTok sebagai medium microlearning 60–180 detik yang memadukan hook tiga detik pertama dengan kedalaman nilai, serta podcast sebagai ruang kontemplasi audio yang memperkuat refleksi spiritual melalui storytelling dan tadabbur ayat.
Bab keenam memperkenalkan model integratif revolusioner yang menyinergikan ketiga platform: TikTok sebagai entry point yang memicu rasa ingin tahu, YouTube sebagai ruang eksplorasi konseptual, dan podcast sebagai wahana refleksi—membentuk ekosistem pembelajaran berlapis yang menyentuh kognitif, afektif, dan spiritual. Bab ketujuh menganalisis konteks dan dinamika pedagogi digital, termasuk pergeseran otoritas keagamaan dan krisis makna dalam budaya instan, sementara bab kedelapan memberikan panduan praktis merancang kurikulum digital yang tidak hanya “melek teknologi” tetapi juga “melek nilai”. Bab kesembilan hingga kesebelas menekankan bahwa keberhasilan PAI digital diukur bukan dari jumlah views atau likes, tetapi dari sejauh mana nilai Islam diinternalisasi dalam perilaku nyata, dilengkapi strategi membentengi peserta didik dari hoaks dan radikalisme digital melalui internalisasi adab digital berbasis prinsip muraqabah, shidq, dan amanah, serta model asesmen autentik yang menilai kedalaman refleksi spiritual.
Buku ditutup dengan proyeksi masa depan pedagogi digital dalam PAI yang menghadirkan tren inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan dan personalized learning, tantangan implementasi seperti kesenjangan infrastruktur dan kesiapan guru, serta strategi adaptasi berkelanjutan melalui penguatan kapasitas pendidik dan kolaborasi ekosistem pendidikan.
Buku ini menjadi rujukan wajib bagi pendidik yang ingin tetap relevan di hati Generasi Z tanpa kehilangan jati diri Islam; bagi orang tua yang khawatir anaknya tersesat di ruang digital; serta bagi kreator konten yang ingin berdakwah dengan cara kekinian namun berbobot. Jangan biarkan generasi muda belajar agama dari konten viral yang dangkal. Jadilah pendidik yang mampu menyampaikan kedalaman Islam melalui bahasa digital yang mereka pahami—karena teknologi bukan ancaman, melainkan wasilah untuk memperluas dakwah edukatif yang rahmatan lil ‘alamin
Penulis: Mohammad Ariswara Rai Djafar, S.Pd. | Nurul Inayah Bachmid, S.Pd. | Dr. Jhems Richard Hasan, M.Pd. | Dr. Asna Usman Dilo, M.Pd
Editor: Ibnu Rawandhy N. Hula
Halaman buku: 183
DOWNLOAD
PRE-ORDER | Rp 66.000









