Memahami Jepang memerlukan lebih dari sekadar observasi permukaan terhadap estetika atau fenomena pop kultur. Di balik ritual, tata ruang, dan dinamika sosialnya, terdapat jaringan konsep yang secara operasional mengatur cara masyarakat Jepang memaknai keberadaan, alam, dan relasi antarmanusia.
Buku ini mengurai benang merah tersebut melalui eksplorasi mendalam terhadap konsep-konsep kunci: mulai dari kami (kekuatan sakral yang imanen), kegare dan harae (manajemen ketidakseimbangan ritual), engi dan inga (kausalitas relasional), hingga satori, nenbutsu, dan sokushin jōbutsu (mekanisme pencerahan dan devosi).
Penting untuk ditegaskan: buku ini bukan buku teologis, bukan panduan keagamaan, dan tidak bertujuan memvalidasi doktrin kepercayaan tertentu. Sebaliknya, buku ini adalah sebagain dari pengantar untuk mempelajari budaya Jepang yang disusun berdasarkan pembacaan literature-literature, serta konsensus akademis terkini. Beberapa bagian dari buku ini secara sengaja mempertimbangkan ulang romantisisasi dan generalisasi, menyajikan konsep-konsep tersebut bukan sebagai dogma statis, melainkan sebagai teknologi sosial dan kerangka navigasi eksistensial yang terus beradaptasi.
Dirancang dengan struktur yang berlapis, buku ini dapat diakses oleh pembaca umum yang ingin memperdalam wawasan, sekaligus memenuhi standar kedalaman analitis yang dibutuhkan oleh mahasiswa, peneliti, dan akademisi di bidang cultural studies, sastra, dan sejarah.
Melalui buku ini, pembaca akan diajak memahami bahwa dalam budaya Jepang, yang sakral tidak terpisah dari yang profan. Makna tidak terletak pada keyakinan abstrak, melainkan pada tindakan berulang, pemeliharaan hubungan, dan pengakuan akan sifat kondisional dari segala sesuatu. Sebuah peta navigasi yang indispensable untuk membaca Jepang secara kritis, kontekstual, dan utuh.
Penulis : Heri Widodo, S.S., M.A.
Halaman buku: 157
DOWNLOAD
PRE-ORDER | Rp 62.000








