Pembangunan desa wisata tradisional berkelanjutan merupakan bagian dari inovasi pemerintahan di daerah; berbasis komunitas yang mengintegrasikan nilai keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan sosial-budaya. Desa wisata tidak hanya dipahami sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang hidup masyarakat yang memiliki identitas, kearifan lokal, serta struktur sosial yang harus dijaga keberlanjutannya. Selain itu pembangunan desa wisata tradisional berkelanjutan merupakan bentuk konkret dari pengentasan kemiskinan (SDG1)
Keberlanjutan desa wisata tradisional yang bergantung pada kemampuan masyarakat lokal untuk menjadi aktor utama dalam pengelolaan pariwisata, didukung oleh kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Prinsip ekologi menekankan perlindungan lingkungan dan daya dukung, prinsip ekonomi menuntut distribusi manfaat yang adil, sementara prinsip sosial-budaya menegaskan pentingnya pelestarian nilai dan tradisi lokal.
Sinergitas dan kolaborasi dan atau kemitraan strategis (SDG 17) menjadi kunci dalam mengelola kompleksitas pengembangan desa wisata. Melalui pendekatan Model Nona Helix, keterlibatan berbagai aktor; mulai dari masyarakat, pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga lembaga adat, dapat dianalisis secara sistematis untuk memastikan pengelolaan desa wisata yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Penulis : Dr. Dian Kagungan, M.H
Editor : Prof. Intan Fitri Meutia, P.hD
Halaman buku: 200
DOWNLOAD
PRE-ORDER | Rp 70.000









