Buku ini merupakan dokumentasi mengenai ritual dan tumbuhan ritual masyarakat adat di kawasan Gunung Slamet, sebuah lanskap yang tidak hanya memiliki kekayaan ekologis, tetapi juga menyimpan pengetahuan, tradisi, dan hubungan yang erat antara manusia, alam, leluhur, serta kehidupan spiritual. Buku ini menghadirkan pengetahuan dari lima komunitas, yaitu Masyarakat Adat Reksawana Guci, Serang, Banokeling, Lemah Wangi, dan Kalitanjung, dengan memperlihatkan keragaman ritual dan penggunaan tumbuhan yang masih hidup dalam keseharian masyarakat.
Melalui berbagai ritual seperti Ruwat Bumi, Merti Bumi, perlon, slametan kelahiran, weton, pernikahan, kematian, penghormatan terhadap makam dan leluhur, hingga ritual yang berkaitan dengan kalender adat dan keagamaan, buku ini menunjukkan bahwa tumbuhan mempunyai kedudukan yang jauh melampaui fungsi praktis. Tumbuhan menjadi bagian dari sesaji, makanan, minuman, wewangian, penyucian, pengobatan, perlindungan, serta simbol untuk menyampaikan doa dan pandangan hidup masyarakat. Pada masyarakat Kalitanjung, misalnya, tumbuhan hadir dalam Ruwat Bumi, Tutupan Sadran, slametan kematian, pemberian nama, dan weton, dengan fungsi mulai dari mengharumkan dan menyejukkan hingga menyimbolkan pangan dan tahapan kehidupan.
Keragaman pengetahuan tersebut terlihat kuat pada masyarakat Lemah Wangi melalui Pepak Agung, sebuah susunan sesaji yang mencakup wedang, bunga, kayu atau isi alas, pala pendem, pala gumantung, pala kesimpar, makanan, serta berbagai bahan perlindungan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan bentuk, rasa, aroma, warna, habitat, hingga makna simboliknya. Sementara itu, tradisi Banokeling menunjukkan kuatnya hubungan antara ritual, kalender Jawa-Islam, makanan, makam, dan leluhur melalui berbagai bentuk perlon dan slametan.
Lebih dari sekadar inventarisasi tumbuhan dan ritual, buku ini merekam sebuah lanskap biokultural: ruang tempat alam dan kebudayaan saling membentuk. Bunga, daun, buah, padi, umbi-umbian, sirih, pisang, kelapa, tebu, serta berbagai hasil bumi menjadi bahasa simbolik untuk menyampaikan rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, permohonan keselamatan, keseimbangan hidup, dan hubungan manusia dengan bumi.
Di tengah perubahan sosial, perubahan fungsi lanskap, dan semakin rentannya pewarisan pengetahuan antargenerasi, dokumentasi ini menjadi penting. Buku ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber informasi mengenai etnobotani dan kebudayaan masyarakat adat Gunung Slamet, tetapi juga menjadi jembatan bagi upaya pelestarian pengetahuan lokal, konservasi tumbuhan, dan pewarisan budaya kepada generasi berikutnya. Sebab, di balik setiap tumbuhan yang digunakan dalam ritual tersimpan cerita tentang manusia, bumi, leluhur, dan cara sebuah masyarakat memahami serta merawat kehidupannya.
Penulis : Heri Irawan | Musmuallim | Syarif Hidayat | Subekti Afrianto | Efriani
Halaman buku: 110
DOWNLOAD
PRE-ORDER | Rp 52.000









